SUDAH SEMPURNAKAH PUASA KITA?

SUDAH SEMPURNAKAH PUASA KITA?




Puasa yang diwajibkan kepada orang-orang beriman merupakan jembatan untuk memperoleh takwa (Qs. Al-Baqarah: 183). Takwa inilah target yang harus dicapai oleh setiap orang yang beriman, yang melakukan ibadah puasa. Tentu saja, memperoleh derajat takwa tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena ada kode etik yang harus dilakukan, dan (tentunya) tidak boleh dilanggar. Kode etik itu adalah 'esensi puasa' itu sendiri.

Nabi Muhammad SAW telah menjelaskan kode etik ini dalam Hadits beliau, "Puasa itu bukan hanya tidak makan dan tidak minum saja, namun (yang disebut puasa itu) menghindarkan diri dari perbuatan yang sia-sia dan perkatan kotor (cabul)" (Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban: 5/198 dan Ibnu Khuzaimah: 3/242).

Jelas bahwa puasa itu bukan hanya menahan diri dari lapar, dahaga dan menghindari seks di siang hari. Inilah adalah puasa 'perut' dan 'kemaluan', yang biasa disebut oleh para ulama dengan puasanya orang awam (orang kebanyakan). Karena hal demikian dapat dilakukan oleh siapapun. Esensi puasa adalah pengendalian diri. Jadi, dapat dikatakan bahwa puasa itu sejatinya adalah training of self control. Sehingga, puasa yang dilakukan dapat menjadi semacam controller atas segala tindak-tanduk sang hamba. Jika tidak, maka puasanya hanya akan menghasilkan lapar dan dahaga belaka. Hal ini paralel dengan Hadits Nabi SAW, "Bisa jadi orang yang berpuasa itu tidak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dah dahaga saja." (HR Ibnu Majah). Puasa seperti ini hanya sekedar 'menggugurkan' kewajiban, tidak lebih.

Oleh karena itu, Nabi SAW mengajarkan agar setiap Mukmin (yang sedang berpuasa) untuk 'memuasakan' organ tubuh lainnya, seperti mata, telinga, tangan, kaki dan mata. Nabi SAW menyatakan, "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (bohong) dan benar-benar melakukannya, maka Allah tidak butuh kepada usahanya dalam meninggalkan makan dan minumnya." (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari: 4/116). Seorang Mukmin yang 'memuasakan' anggota tubuhnya, maka matanya tidak digunakan untuk melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah; telinga tidak dipakai untuk mendengarkan perkataan yang tidak benar (munkar); tangan tidak dijadikan untuk mengambil barang yang bukan haknya (miliknya); dan kaki tidak berjalan ke tempat maksiat. Seorang wanita Muslimah yang sedang 'memuasakan' anggota tubuhnya, ia dengan ikhlas akan menutup rambutnya agar tidak dilihat oleh orang lain. Dengan demikian ia tidak memberikan peluang kepada orang lain (laki-laki) untuk berpikiran kotor dan melakukan perbuatan yang haram. Selain puasa organ tubuh, lebih sempurna lagi jika hati juga dipuasakan. Sehingga ia tidak memiliki niat yang kotor, yang dapat merusak segala amalan yang telah diusahakan oleh anggota badan.

Seorang yang bepuasa dengan sempurna, mengetahui batasan-batasan dan kode etik yang digariskan oleh agama, hasilnya akan baik dan sempurna pula. Dalam hal ini, Nabi SAW menyatakan, "Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, mengetahui batasan-batasannya dan memelihara (menjaga) apa yang seharusnya dia jaga, maka (puasanya itu) akan menghapuskan kesalahan (dosa) yang sebelumnya." (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad: 3/55 dan Abu Ya`la: 2/322).

Hadits di atas secara gamblang menjelaskan bahwa puasa itu memiliki batasan-batasan alias aturan-aturan dan syarat-syarat. Jika aturan dan syarat tersebut dilaksanakan, maka akan menghasilkan buah yang diinginkan. Dengan demikian, tidak semua yang 'berpuasa' itu 'berpuasa'. Tidak seluruh orang yang 'tidak makan', 'tidak minum' dan 'meninggalkan' hubungan intim dikatakan berpuasa. Karena belum tentu aturan dan syarat puasanya dikerjakan.

Sangat menarik apa yang dikatakan oleh seorang Sahabat Nabi SAW, Jabir ibn Abdullah, "Jika engkau berpuasa, hendaklah pendengaranmu berpuasa, penglihatanmu berpuasa, lisanmu berpuasa dari berkata dusta dan perbuatan dosa dan janganlah engkau menyakiti pembantu. Hendaklah hari-hari puasamu itu hari ketenangan hati dan ketentraman (jiwa) dan jangan engkau jadikan hari (dimana) engkau berbuka (tidak berpuasa) sama saat engkau sedang melakukan puasa."

Sungguh, seandainya setiap Mukmin tahu bahwa puasa itu bukan untuk berlapar-lapar, merasakan dahaga dan menahan kemaluan saja, niscaya puasanya akan semakin baik dan sempurna. Karena puasa diwajibkan bukan untuk itu. Puasa diperintahkan harus dihiasi dengan aturan dan syarat-syarat yang ada. Jika tidak, hari puasa akan sama dengan hari berbuka (tidak puasa). Kalau demikian realitasnya, maka benarlah yang dikatakan oleh Nabi SAW, "Boleh jadi orang yang berpuasa, hanya merasakan lapar saja, dan orang yang Qiyamullail hanya merasakan bergadang (tidak tidur semalaman)." (Dikeluarkan oleh Hakim: 1/431. Ia menyatakan bahwa Hadits ini Shahîh berdasarkan syarat Imam Bukhari. Dan dikeluarkan oleh Ibnu Hibban: 8/258).

Oleh karenanya, setiap Mukmin harus senantiasa hati-hati dengan setiap ibadah yang dilakukannya. Apalagi puasa. Karena puasa khusus milik Allah. Jadi, puasa harus benar-benar diniatkan untuk Allah semata.

Imam Bukhari di dalam Shahih-nya, bab Tawhid (juz 9: 143) mengeluarkan sebuah Hadits Qudsi yang berbunyi, "Abu Nu'aim menceritakan kepada kami, "al-A'masy menceritakan kepada kami dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra. –dari Nabi SAW—beliau bersabda, "Allah SWT berkata, "Puasa adalah untuk-Ku dan aku (pula) yang akan mengganjarnya. (Orang yang berpuasa itu) ia meninggalkan syahwatnya, makannya dan minumnya karena Aku…"

Semoga puasa yang kita lakukan ini benar-benar kita persembahkan kepada Allah. Sehingga, dengan puasa ini kita benar-benar diakui sebagai hamba-Nya yang bertakwa (muttaqun). Wallahu a'lamu bi as-shawab!


Semoga Info ini bermanfaat

Comments

Popular Posts

AYO RAIH KEBEBASAN FINANSIAL & JADILAH JUTAWAN BERSAMA PAYTREN...!!!